Artikel 3

Di ujung timur sebuah kabupaten, terhampar sebuah tempat yang oleh penduduknya disebut Desa Berkah. Nama ini bukan sekadar label, melainkan cerminan dari sejarah panjang yang penuh cerita tentang kebaikan, ketulusan, dan keberlimpahan rezeki. Konon, nama “Berkah” diberikan oleh para leluhur setelah sebuah kejadian luar biasa: hasil panen padi melimpah ruah di tengah musim kemarau, ketika desa-desa lain justru mengalami gagal panen. Sejak saat itu, setiap langkah di tanah desa ini diyakini membawa keberuntungan bagi siapa pun yang menjaganya.

Pagi di Desa Berkah dimulai dengan irama alam. Kokok ayam menyatu dengan suara gemericik air sungai yang mengalir jernih dari pegunungan. Kabut tipis menggantung di atas sawah, menyelimuti hamparan hijau yang memantulkan cahaya mentari pertama. Udara yang sejuk seakan mengajak setiap orang menarik napas dalam-dalam, merasakan kesegaran yang mungkin sulit ditemukan di kota besar.

Bentang alamnya adalah perpaduan yang memanjakan mata. Dari perbukitan di sebelah barat, terlihat hamparan sawah berundak-undak, mengalirkan air seperti anak tangga yang membawa kehidupan ke seluruh desa. Di sisi timur, perkebunan kopi, cengkeh, dan kakao tumbuh subur, hasil dari tangan-tangan terampil petani yang telah mewarisi ilmu bercocok tanam turun-temurun. Setiap musim panen, aroma khas kopi sangrai dan wangi cengkeh kering memenuhi udara, mengundang para perantau untuk pulang.

Warga Desa Berkah hidup dengan prinsip gotong royong yang begitu kental. Jika ada yang membangun rumah, semua tetangga datang membantu. Jika musim panen tiba, pekerjaan dibagi dan hasilnya dinikmati bersama. Tidak ada yang dibiarkan lapar, tidak ada yang merasa sendirian. Bahkan dalam perayaan hari besar, desa ini berubah menjadi satu keluarga besar—meja makan panjang terhampar di tengah lapangan, dipenuhi hidangan hasil bumi, dan tawa riuh mengisi malam.

Di pusat desa, berdiri sebuah pasar tradisional yang menjadi denyut nadi ekonomi. Setiap pagi, ibu-ibu menjajakan sayur segar, buah, dan hasil kebun. Para bapak membawa hasil tangkapan ikan dari sungai, sementara anak-anak membantu dengan riang gembira. Pasar ini bukan hanya tempat bertransaksi, tapi juga pusat pertemuan sosial, tempat gosip hangat dibagikan, dan berita desa disebarkan.

Selain alam yang subur, Desa Berkah juga terkenal karena warganya yang menjaga warisan budaya. Tari-tarian tradisional, musik bambu, dan upacara adat tetap dilestarikan. Ada satu tradisi unik yang selalu dinantikan: Sedekah Bumi. Setiap tahun, seluruh warga berkumpul di lapangan desa, membawa hasil panen terbaik sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Upacara ini diiringi doa bersama dan diakhiri dengan pembagian makanan untuk seluruh pengunjung, tanpa memandang siapa mereka.

Anak-anak Desa Berkah tumbuh di lingkungan yang sehat, penuh pendidikan moral dan kearifan lokal. Mereka belajar menghormati alam, menyayangi hewan, dan menghargai kerja keras. Meski sekolah di desa sederhana, semangat belajar mereka tinggi. Banyak di antara mereka yang bercita-cita menjadi guru, dokter, atau pengusaha yang kelak akan membangun kampung halaman.

Seiring perkembangan zaman, Desa Berkah mulai membuka diri terhadap wisatawan. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi panorama indah, tetapi juga pengalaman hidup sederhana nan damai. Menginap di rumah warga, ikut menanam padi, memetik kopi, atau sekadar duduk di tepi sungai sambil menikmati senja menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa warga bahkan mulai mengembangkan homestay dan produk olahan seperti kopi bubuk, keripik pisang, serta madu hutan untuk dijual sebagai oleh-oleh.

Meski dunia luar terus berubah, Desa Berkah tetap teguh pada jati dirinya. Alam dijaga, budaya dilestarikan, dan nilai-nilai kekeluargaan dipertahankan. Bagi siapa pun yang datang, rasa damai dan rasa memiliki langsung menyapa. Seakan-akan, setiap sudut desa berbisik: “Kamu pulang, dan ini rumahmu.”

Desa Berkah bukan sekadar tempat di peta. Ia adalah kisah tentang harmoni antara manusia dan alam, antara masa lalu dan masa depan, antara doa dan kenyataan. Sebuah surga kecil yang mengajarkan bahwa keberkahan sejati bukan hanya diukur dari harta, melainkan dari hati yang penuh rasa syukur dan tangan yang tak lelah memberi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top